Pengertian Mendidik, Mengajar, Membimbing, Dan Melatih
Apa sih pengertian mendidik? Apakah sama mendidik
dengan mengajar? Lalu bagaimana dengan melatih dan membimbing? Mungkin
perbedaan keempat kata tersebut (yang notabene sangat erat dengan dunia guru, dunia
pendidikan) agak kabur dan kurang jelas. Drs. Suparlan, M.Pd. dalam bukunya
yang bertajuk Menjadi Guru Efektif telah mendaftar perbedaan-perbedaan antara
mendidik, membimbing dan melatih serta mengajar. Berikut perbedaan keempatnya
menurut beliau:
Mendidik
Mendidik:
Dari segi isi, mendidik sangat berkaitan dengan moral dan kepribadian. Jika
ditinjau dari segi proses, maka mendidik berkaitan dengan memberikan motivasi
untuk belajar dan mengikuti ketentuan atau tata tertib yang telah menjadi
kesepakatan bersama. Kemudian bila ditilik dari segi strategi dan metode yang
digunakan, mendidik lebih menggunakan keteladan dan pembiasaan.
Membimbing
Membimbing:
Jika ditinjau dari segi isi, maka membimbing berkaitan dengan norma dan tata
tertib. Dilihat dari segi prosesnya, maka mendidik dapat dilakukan dengan
menyampaikan atau mentransfer bahan ajar yang berupa ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni dengan menggunakan strategi dan metode mengajar yang sesuai
dengan perbedaan individual masing-masing siswa. Lalu kalau dilihat dari
strategi dan metode yang digunakan, maka membimbing lebih berupa pemberian
motivasi dan pembinaan.
Melatih
Melatih:
Melatih bila ditinjau dari segi isi adalah berupa keterampilan atau kecakapan
hidup (life skills). Bila ditinjau dari prosesnya, maka melatih dilakukan
dengan menjadi contoh (role model) dan teladan dalam hal moral dan kepribadian.
Sedangkan bila ditinjau dari strategi dan metode yang dapat digunakan, yaitu
melalui praktik kerja, simulasi, dan magang.
Mengajar
Mengajar:
Jika ditinjau dari segi isi, maka mengajar berupa bahan ajar dalam bentuk ilmu
pengetahuan. Prosesnya dilakukan dengan memberikan contoh kepada siswa atau
mempraktikkan keterampilan tertentu atau menerapkan konsep yang diberikan
kepada siswa agar menjadi kecakapan yang dapat digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Strategi dan metode yang dapat digunakan untuk mengajar misalnya
ekspositori dan inkuiri.
Demikian tulisan tentang perbedaan mendidik, mengajar, melatih dan membimbing dari blog penelitian tindakan kelas, semoga bermanfaat buat anda.
Demikian tulisan tentang perbedaan mendidik, mengajar, melatih dan membimbing dari blog penelitian tindakan kelas, semoga bermanfaat buat anda.
Antara
“MENGAJAR” dan “MENDIDIK”
Berbicara tentang
pengertian “MENGAJAR” kalau dilihat esesinya dalam proses belajar “MENGAJAR”,
sudah menyangkut kegiatan “MENDIDIK”, dalam artian untuk mengantarkan anak
kepada tingkat kedewasaanya, baik secara fisik maupun mental. Tetapi dalam
uraian berikut ini mencoba membedakan, dengan suatu maksud memberikan suatu
penanaman terhadap kenyataan yang kini sedang berkembang. Kenyataan yang
dimaksud adalah keadaan proses dan hasil pengajaran di sekolah-sekolah.
Sehingga pembedaan ini tidak bersifat esensial dan konseptual. Oleh karena itu
maka kata “MENGAJAR” dan “MENDIDIK” akan ditempatkan di antara tanda petik
(“……….”)
Memang kalau
dilihat dari segi asal katanya, keduanya memiliki arti yang sedikit berbeda.
““MENGAJAR”” adalah member pelajaran, semisal pelajaran matematika, member
pelajaran bahasa, member pelajaran geografi, agar siswa yang diajar itu
mengetahui dan paham tentang bahan yang diajarkan tadi. Sedang ““MENDIDIK” “
adalah memelihara dan member latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut umum, memang ““MENGAJAR”” diartikan sebagai usaha guru untuk
menyampaikan dan menanamkan pengetahuan kepada siswa/anak didik. Jadi
““MENGAJAR”” lebih cenderung kepada transfer of knowledge.
Kenyataan
““MENGAJAR”” yang lebih menekankan transfer of knowledge,
inilah justru banyak berkembang di sekolah-sekolah. Kebanyakan guru dan juga
orang tua wali sudah merasa puas kalau para anak didik mendapatkan nilai baik
pada hasil ulanganya. Jadi penting dalam hal ini siswa dituntut mengetahui
pengetahuan yang telah diajarkan oleh gurunya. Yang penting adalah kecerdasan
otaknya, bagaimana perilaku dan sikap mental anak didik jarang mendapatkan
perhatian secara serius. Cara evaluasi yang dilakukan oleh oleh guru pun juga
hanya melihat bagaimana hasil pekerjaan ujian, ulangan atau tugas yang
diberikannya. Ini semua mendukung suatu pengertian bahwa ““MENGAJAR”” hanya
terbatas pada soal kognitif dan paling-paling ditambah keterampilan dan masih
jarang yang sampai pada unsur afeksi.
Dalam hubungan ini
perlu dikemukakan suatu kasus yang cukup menarik. Pada suatu hari ada seorang
guru dan siswa dari suatu SMA, sama-sama naik Colt kampus. Di dalam Colt itu
pun keduanya tidak pernah tegur sapa. Kemudian setelah sampai di depan gedung
sekolahnya, guru itupun turun duluan dan siswanya dari belakang mengacungkan
kepalan tanganya. Ilustri ini menunjukkan bahwa seorang guru tadi hanya diakui
eksistensisnya sebagai guru kalau berada hanya di depan kelas saja, tetapi
kalau di luar kelas sudah bukan apa-apa lagi, bahkan mungkin dianggap musuh
karena guru itu dipandang sebagai guru yang kejam. Kejadian-kejadian lain
banyak, misalnya para siswa mengeroyok gurunya, hanya karena nilai rapornya
jelek atau akrena tidak naik kelas. Padahal semua ini hanya sekedar symbol atau
tahapan tertentu, bukan tujuan.
Kasus dan kejadian
seperti dicontohkan di atas, sebagai petunjuk atau akbiat dari ““MENGAJAR””
yang hanya transfer of knowledge, dan subjek belajar
seolah-olah hanya membutuhkan pengetahuan saja. Padahal tujuan belajar secara
esensial, disamping untuk mendapatkan pengetahuan, juga keterampilan dan untuk
pembinaan sikap mental. Dengan demikian tidak cukup kalau hanya dilakukan
proses pengajaran yang transfer of knowledge. Itulah maka
““MENGAJAR”” harus sekaligus ““MENDIDIK””.
““MENDIDIK”” dapat
diartikan sebagai suatu usaha untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan
baik secara jasmani maupun rohani. Oleh karena itu ““MENDIDIK”” dikatakan
sebagai upaya pembinaan pribadi, sikap mental dan akhlak anak didik.
Dibandingkan dengan pengertian ““MENGAJAR””, maka pengertiak ““MENDIDIK”” lebih
mendasar. ““MENDIDIK”” tidak sekedar transfer of knowledge,
tetapi juga transfer of values. ““MENDIDIK”” diartikan secara
utuh, baik matra kognitif, psikomotorik maupun afektif, agar tumbuh sebagai
manusia yang berpribadi.
Berkait dengan
soal pembentukan kepribadian anak didik, maka ““MENDIDIK”” juga harus merupakan
usaha untuk memberikan motivasi kepada anak didik agar terjadi proses
internalisasi nilai-nilai pada dirinya, sehingga akan lahir suatu sikap yang
baik.
Sehubungan dengan
uraian dan kenyataan di atas, maka ““MENGAJAR”” dalam kegiatan belajar-”MENGAJAR”
harus diterjemahkan secara konseptual, disinkronisasikan dengan pengertian
““MENDIDIK””. Oleh karena itu Raka Joni, memberikan batasan “MENGAJAR” adalah
menyediakan kondisi optimal yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar
anak didik untuk memperoleh penegtahuan, keterampilan dan nilai atau sikap yang
dapat membawa perubahan tingkah laku maupun pertumbuhan sebagai pribadi.
Pengertian mendidik, mengajar dan melatih
Mendidik,
mengajar, dan melatih
Pendidikan
pada hakekatnya mengandung tiga unsure, yaitu mendidik, mengajar, dan melatih.
Ketiga hal tersebut memiliki pengertian yang berbeda.
Mendidik
menurut Darji Darmodiharjo menunjukan usaha yang lebih ditunjukan kepada
pengembangan budi pekerti, hati nurani, semangat, kecintaan, rasa kesusilaan,
ketaqwaan dan lain-lainnya.
Mengajar
berarti memberi pelajaran tentang berbagi ilmu yang bermanfaat bagi
perkembangan kemampuan berfikirnya. Disebut juga pendidikan intelek.
Latihan
ialah usaha untuk memperoleh keterampilan dengan melatih sesuatu secara
berulang-ulang, sehingga terjadi mekanismesasi atau pembiasaan.
Tujuan
mendidik ingin mencapai kepribadian yang terpadu, yang terintegrasi, yang
sering di rumuskan untuk mencapai kepribadian yang sewasa. Tujuan pengajaran
yang menggarap kehidupan intelektual anak ialah supaya anak kelak sebagai orang
dewasa memiliki kemampuan berpikir seperti yang diharapkan dari orang dewasa
secara ideal, yaitu diantaranya mampu berpikir seperti abstrak logis, objektif,
kritis, sistematis analisis, sintesis, integrative, dan inovatif. Tujuan
latihan ialah untuk memperoleh keterampilan tentang sesuatu
- PENDIDIKAN
“Education
is not preparation for life; education is life itself“ -John Dewey
Pendidikan
sebagai kebutuhan pokok manusia tentu akan mengalami sebuah perkembangan, baik
dari segi system maupun penjabaran teknis maupun strateginya, apalagi
teknologinya. Bukan lagi hal yang panjang untuk diperdebatkan akan ekuivalensi
pendidikan dengan peradaban.
Mengenai
pengertian pendidikan, akan banyak perdebatan tentang pengertiannya. Hal ini
memungkin karena pendidikan masih tergantung dengan paradigm bahkan ideology
yang dimiliki oleh pencetus defenisi itu. Sebagai contoh, beberapa tokoh
pendidikan menguraikan pengertian pendidikan berdasarkan ideology yang mengakar
dalam kehidupannya, sebut saja John Dewey.
Seperti yang
diuraikan oleh Roni Syarif H (http://www.scribd.com/Definisi-Pendidikan-Menurut-Para-Ahli.htm) bahwa pendidikan diuraikan oleh beberapa ahli
seperti, Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan adalah segala daya
upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat
memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras
dengan alam dan masyarakatnya, Darmaningtyas mengartikan pendidikan
adalah usaha dasar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup dan kemajuan yang
ledih baik, Paulo Freire mengartikan pendidikan merupakan jalan menuju
pembebasan yang permanen dan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah masa
di mana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka, yang melalui praksis
mengubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang pertama, dan
merupakan sebuah proses tindakan kultural yang membebaskan, John Dewey
mengartikan pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal
ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa
dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk
menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan
perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok di mana dia hidup.
Masih dalam
tulisan blog yang sama H. Horne mengartikan pendidikan adalah proses
yang terus-menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk
manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar
kepada tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional
dan kemanusiaan dari manusia, Frederick J. Mc Donald mengartikan
pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah
tabiat. Ahmad D. Marimba mengartikan pendidikan adalah bimbingan atau
pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani
terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Djayakarta
mengartikan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda, maksudnya pengangkatan
manusia muda ke tahap insani. Inilah yang menjelma dalam semua perbuatan
mendidik. Sir Godfrey Thomson mengartikan pendidikan adalah pengaruh
lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang permanent
di dalam kebiasaan-kebiasaan tingkah lakun, pikiran, dam sifatnya.
Bahkan dalam
forum diskusi milik Darsana Setiawan (http://diskusipendidikan.forumotion.com/t4-pengertian-pendidikan-dan-pengajaran.htm) setidaknya ada tiga pengertian yang berbeda, yakni
pendidikan merupakan upaya nyata untuk memfasilitasi individu lain, dalam
mencapai kemandirian serta kematangan mentalnya sehingga dapat survive di dalam
kompetisi kehidupannya. Pendidikan adalah pengaruh bimbingan dan arahan dari
orang dewasa kepada orang lain, untuk menuju kearah kedewasaan, kemandirian
serta kematangan mentalnya. Pendidikan merupakan aktivitas untuk melayani orang
lain dalam mengeksplorasi segenap potensi dirinya, sehingga terjadi proses
perkembangan kemanusiaannya agar mampu berkompetisi di dalam lingkup
kehidupannya (Insan Cerdas dan Kompetitif).
Dalam buku
manajemen pendidikan yang disusun oleh Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI
diuraikan pengertian pendidikan sebagai berikut
“Esensi dari
pendidikan itu sebenarnya ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu
pengetahuan, teknologi, ide-ide, dan nilai-nilai spiritual serta estetika) dari
generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda dalam setiap masyarakat
atau bangsa” (2009:11)
Masih dalam
buku yang sama pengertian pendidikan lebih diperdalam lagi dengan menguraikan
hakikat pendidikan bahwa pendidikan merupakan proses interaksi manusiawi yang
ditandai keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik
dalam rangka penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami
perubahan yang semakin pesat dan meningkatkan kualitas hidup pribadi dan
masyarakat yang berlansung seumu hidup (2009:12).
Berbeda
dengan Suryosburoto (2010:9) memberikan batasan pengertian pendidikan
sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan dimana tujuan pendidikan dalam
rangka membawa anak kearah tingkat kedewasaan.
Menurut Henderson
dalam Sadulloh (2010:5), pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan
dan perkembangan, sebagai hasil interakasi individu dengan lingkungan social
dan lingkungan fisik, berlansung sepanjang hayat sejak manusia lahir.
Lain halnya
dengan Coser at all dalam Hasbullah (2009:9) mengungkapkan “Education
is the deliberate, formal transfer of knowledge, skill and values from person
to another”. Sementara Webster dalam Hasbullah (2009:9) juga
mengungkapkan “Education is the process of training and developing the
knowledge, skill, mind, character etc especially by formal schooling”.
Mengenai hal
di atas, tampak Coser at all dan Webster menekankan pendidikan sebagai suatu
proses pengalihan pengetahuan, nilai-nilai, keahlian, sikap, karakter dari
seseorang ke orang yang lain secara formal.
Sejalan
dengan pengertian di atas, Poerbakawatja dalam Zuhairmi, dkk
(1995:120) menguraikan pengertian pendidikan dalam arti yang luas, bahwa
pendidikan adalah perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan
pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta kerampilan (otang
menamakannya juga “mengalihkan” kebudayaan) kepada generasi muda, sebagi usaha
menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani.
Dari
pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau
pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya
supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya dan masyarakat.
2. MENDIDIK
Pendidikan
merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia
dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga belajar tetapi lebih ditentukan oleh
instingnya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan
menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima
pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan
berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu juga di sekolah dan
perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen.
Lalu apa
yang dimaksud dengan mendidik?
Setidaknya
ada beberapa pengertian yang bisa kita uraikan. Mendidik atau membimbing adalah
suatu pekerjaan yang dipikul oleh guru untuk mengarahkan anak-anak didik
dalam belajar dan dalam berprilaku yang baik, baik itu dikelas atau
di masyarakat.(http://www.keren.web.id/pengertian-mendidik-atau-membimbing-anak.html)
Mendidik
dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang
maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan Mendidik lebih bersifat kegiatan
berkerangka jangka menengah atau jangka panjang. Hasil pendidikan tidak dapat
dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan
integratif olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan
perkembangan tingkat penalaran peserta didik. (http://www.kompasiana.com/perbedaan Mendidik dan
Mengajar.html)
Menurut Sugianto,
mendidik bukan hanya “Transfer of Knowledge” tetapi juga “Transfer
of Value”. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi umat
manusia. (http://www.naqsdna.com/perbedaan-mendidik-dan-mengajargg.html)
Pengertian
lain dari mendidik dapt kita uraikan pula secara berbeda, mendidik dapat
menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal
dalam mencapai tujuan pendidikan. Mendidik lebih bersifat kegiatan berkerangka
jangka menengah atau jangka panjang. Hasil pendidikan tidak dapat dilihat dalam
waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif olah
pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat
penalaran peserta didik. (http://urangkapuas.blogspot.com/2011/04/perbedaan-mendidik-dan-mengajar.html)
Mendidik
menurut Darmodiharjo dalam Sodulloh (2010:7) menunjukkan usaha
yang lebih ditujukan kepada pengembangan budi pekerti, hati nurani, semangat,
kcintaan, rasa susila, ketakwaan, dan lain-lainnya.
Sejalan
dengan itu, Marimba dalam Hasbullah (2009:8) menguraikan arti
mendidik sebagai proses bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama. Lain halnya dengan Hamalik (2011:51), mendidik
hanya dibatasi sebagai pemberian bimbingan belajar kepada murid.
Menurut Wijanarko
(2005:3) mendidik adalah menyampaikan pengajaran, norma-norma dan nilai-nilai
hidup, aturan dan hukum. Pandangan ini diperkuat oleh Waini Rasyidin
dalam tulisannya tentang pedagogic kritis, menguraikan pengertian mendidik
sebagai kegiatan membimbing pertumbuhan anak, jasmani dan rohaninya dengan
sengaja bukan saja untuk kepentingan pengajaran sekarang melainkan utamanya
untuk kehidupan seterusnya dimasa depan.(2007:34)
Berdasarkan
beberapa pengertian di atas, mendidik dapat disimpulkan sebagai proses
bimbingan dan pengajaran dalam rangka mengalihkan nilai-nilai, bukan sekedar
pengetahuan saja. Mendidik merupakansuatu pekerjaan yang dipikul oleh guru
untuk mengarahkan anak-anak didik dalam belajar dan dalam
berprilaku yang baik, baik itu dikelas atau di masyarakat.
3.
PEMBELAJARAN
Sama halnya
dengan pendidikan, pembelajaran juga banyak memiliki pengertian dan sangat
dipengaruhi paradigma dan ideology tertentu. Pada kesempatan ini akan kita
ajukan beberapa pengertian dari pembelajaran. Dalam pandangan kaum behavioristik,
pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan
dengan menyediakan lingkungan (stimulus), aliran kognitif menilai
pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan pada siswa untuk berfikir
agar dapat mengenal dan memahami, sedangkan menurut Gestalt, pembelajaran
adalah usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa sehingga
siswa lebih mudah mengorganisasikannya (mengaturnya) menjadi suatu pola gestalt
(pola bermakna) bahkan kaum humanistik memaknai Pembelajaran adalah
memberikan kebebasan kepada siswauntuk memilih bahan pelajaran dan cara
mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya. (http://muhfida.com/pengertian-pembelajaran-secara-khusus)
Menurut Mashudi
dalam Masri,dkk (2007:15) merupakan perubahan kekal dalam kecenderungan
tingkah laku dan merupakan hasil amalan yang diperkukuh. Lebih lanjut, dalam
pembelajaran harus menguasai 4 kemahiran utama, yaitu mendengar, bertutur,
membaca dan menulis.
Degeng dalam
Majid (2011:11) mengungkapkan pembelajaran atau pengajaran adalah upaya
untuk membelajarkan siswa. Di sisi lain, Aunurrahman (2010:9)
menempatkan pembelajaran sebagai proses transfer informasi atau transfer of
knowledge dari guru kepada siswa.
Abdurrakhman (2010:5) mempunyai pandangan berbeda tentang
pembelajaran. Pembelajaran baginya hanya kegiatan memotivasi dan memberikan
fasilitas kepada siswa agar dapat belajar sendiri. Bahkan secara filosofis, Razali,
dkk (2006:152) menguraikan pembelajaran sebagai suatu bentuk desakan bagi
“kemandirian” spesies manusia.
Sebagaimana
yang dikemukakan winkel, pembelajaran adalah separangkat tindakan yang
dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan
kejadia-kejadian ekstrim yang berperanterhadap rangkaian kejadian-kejadian
intern yang berlangsung dialami siswa. (http://www.scribd.com/doc/50015294/13/B-Pengertian-pembelajaran-menurut-beberapa-ahli)
Berdasarkan
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran dialami
setiap orang sepanjang hayat serta dapat berlaku dimanapun dan kapanpun.
Pembelajaran merupakan interaksi antara peserta didik denganlingkungannya
sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik.
Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan
lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta
didik. Pada dasarnya Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan
pengajaran, walaupun mempunyai konotasiyang berbeda.
4. MENGAJAR
Seperti yang
telah disebutkan di awal tulisan ini, bahwa pendidikan mempunyai differensial
dan tidak berdiri sendiri. Setelah menguraikan pengertian pendidikan, mendidik,
pembelajaran, maka mesti pula dijabarkan apa itu mengajar. Terdapat perbedaan
mendasar antara mendidik dan mengajar, beberapa orang mungkin terjebak antara
definisi mendidik dengan mengajar. Padahal, terdapat perbedaan yang mendasar
antara keduanya. Mengajar merupakan kegiatan teknis keseharian seorang guru.
Semua persiapan guru untuk mengajar bersifat teknis. Hasilnya juga dapat diukur
dengan instrumen perubahan perilaku yang bersifat verbalistis. Tidak seluruh
pendidikan adalah pembelajaran, sebaliknya tidak semua pembelajaran adalah
pendidikan. Perbedaan antara mendidik dan mengajar sangat tipis, secara
sederhana dapat dikatakan mengajar yang baik adalah mendidik. Dengan kata lain
mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil
yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan.
Mendidik
lebih bersifat kegiatan berkerangka jangka menengah atau jangka panjang. Hasil
pendidikan tidak dapat dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan
merupakan kegiatan integratif olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang
bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik.
Mengajar
yang diikuti oleh kegiatan belajar-mengajar secara bersinergi sehingga materi
yang disampaikan dapat meningkatkan wawasan keilmuwan, tumbuhnya keterampilan
dan menghasilkan perubahan sikap mental/kepribadian, sesuai dengan nilai-nilai
absolute dan nilai-nilai nisbi yang berlaku di lingkungan masyarakat dan bangsa
bagi anak didik adalah kegiatan mendidik. Mendidik bobotnya adalah pembentukan
sikap mental/kepribadian bagi anak didik , sedang mengajar bobotnya adalah
penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung
bagi semua manusia pada semua usia.
Hamalik (2011:44) memberikan defenisi pada mengajar dengan
batasan bahwa mengajar ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau
murid di sekolah, mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga
pendidikan sekolah (hal. 47), usaha mengorganisasi lingkungan sehingga
menciptakan kondisi belajar bagi siswa (hal. 48), memberikan bimbingan belajar
kepada murid (hal. 50), kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga Negara
yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakat (hal. 50), dan suatu proses
membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari (hal. 52).
Sejalan
dengan Hamalik, Nasution dalam Suryosobroto (2009:15) menganggap
mengajar merupakan suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan
sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi belajar
mengajar.
Lain halnya
dengan Sanjaya (2009:208), mengajar secara deskriptif diartikan sebagai
proses penyampaian informasi atau pengetahuan (transfer of knowledge) dari guru
kepada siswa. Sedang menurut Waini Rasyidin dalam tulisannya tentang
pedagogic kritis, mengajar yaitu menyajikan bahan ajar tertentu berupa
seperangkat pengetahuan, nilai dan/atau deskripsi keterampilan pada seseorang
atau sekumpulan orang/anak dengan maksud agar pengetahuan yang diperlukannya
sekarang atau untuk pekerjaan yang akan dijalaninya akan bertumbuh sehingga ia
mampu mengembangkan atau meningkatkan intelegensinya secara intelektual
(2007:34).
Sedangkan
menurut Johnson (2007:37), bahwa proses mengajar harus melibatkan siswa
dalam pencarian makna dan harus memungkinkan siswa memahami arti pelajaran yang
mereka pelajari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar