KATA
PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan
puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
Antropologi mengenai kepribadian masyarakat dan kebudayaan ini.
Adapun makalah antropologi tentang kepribadian masyarakat dan kebudayaan ini telah saya usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Namun tidak lepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada saya sehingga saya dapat memperbaiki makalah antopologi ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah antropologi ini kita dapat mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.
Adapun makalah antropologi tentang kepribadian masyarakat dan kebudayaan ini telah saya usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Namun tidak lepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada saya sehingga saya dapat memperbaiki makalah antopologi ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah antropologi ini kita dapat mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.
PENGERTIAN
KEBUDAYAAN
Aristoteles mengatakan bahwa manusia
diciptakan sebagai makhluk monodualisme. Artinya, setiap manusia memiliki dua
naluri pokok yang bertentangan. Yang pertama adalah keinginan untuk berhubungan
dengan Khaliknya (sebagai makhluk individu), dan yang kedua adalah keinginan
untuk berhubungan dengan individu lain dalam konteks masyarakat (sebagai
makhluk sosial). Begitu juga dengan kebudayaan dan masyarakat adalah dua hal
yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan nyata yang selamanya merupakan dwi
tunggal, yang mana tidak ada masyarakat tanpa kebudayaan dan tidak ada
kebudayaan tanpa masyarakat.
Sementara
itu Selo
Soemardjan mendefinisikan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup
bersama dan menghasilkan kebudayaan. Sedangkan menurut Paul B. Horton,
masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup
bersama-sama cukup lama, yang mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki
kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatan dalam kelompok itu.
Pada bagian lain Horton mengemukakan bahwa masyarakat adalah suatu organisasi
manusia yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa
ciri-ciri suatu masyarakat pada umumnya adalah sebagai berikut:
- Manusia yang hidup bersama sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang.
- Bercampur atau bergaul dalam waktu cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusia-manusia baru. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antar manusia.
- Sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan.
- Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena mereka merasa dirinya terkait satu dengan yang lainnya.
Untuk terbentuknya suatu masyarakat paling sedikit
harus terpenuhi tiga unsur berikut.
- Terdapat sekumpulan orang.
- Berdiam atau bermukim di suatu wilayah dalam waktu yang relatif lama
- Akibat dari hidup bersama dalam jangka waktu yang lama itu menghasilkan kebudayaan berupa sistem nilai, sistem ilmu pengetahuan dan kebudayaan kebendaan.
Dari pendapat beberapa ahli
tersebut, dapat dilihat bahwa kebudayaan itu adalah unsur yang sangat penting
dalam kehidupan masyarakat. Pentingnya kebudayaan tersebut dapat disimpulkan
dari pendapat dua antropolog yatu Melvile J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski
yang mengemukakan pengertian Cultural
Determinism yang berarti bahwa segala sesuatu yang terdapat di dalam
masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu
sendiri. Selanjutnya, kebudayaan dipandang sebagai sesuatu yang super organik,
karena kebudayaan itu tetap ada secara turun temurun dari generasi ke generasi
yang seterusnya tetap terus hidup walaupun anggota masyarakatnya telah berganti
karena kematian ataupun kelahiran.
Secara etimologi, kata kebudayaan
berasal dari kata sangsekerta buddayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal,
dengan kata lain kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan
budi atau akal. Seorang antropolog, yaitu E.B. Tylor dalam tahun 1871
mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut “Kebudayaan adalah kompleks yang
mencangkup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan
kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia
sebagai anggota masyarakat.
Dengan kata lain, pengertian
kebudayaan mencangkup sesuatu yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota
masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari
pola-pola perilaku yang normatif, yang mencangkup segala cara-cara atau
pola-pola berfikir, merasakan, dan bertindak. Kebudayaan tersebut dimiliki oleh
setiap masyarakat, bedanya hanyalah bahwa kebudayaan masyarakat yang satu lebih
sempurna daripada kebudayaan masyarakat yang lain dalam perkembangannya untuk
memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah
manusia satu yang bersatu dengan manusia lainnya dalam suatu wilayah tertentu
akan membentuk sebuah masyarakat. Dari masyarakat inilah akan lahir nilai-nilai
bermasyarakat yang berkembang menjadi kebudayaan. Kebudayaan masyarakat di
daerah tertentu akan berbeda dengan kebudayaan masyarakat di daerah lain.
Karena setiap kelompok masyarakat memiliki aspek nilai yang berbeda. Dan
kebudayaan juga dipengaruhi oleh faktor bahasa, keadaan geografis dan
kepercayan.
B.
UNSUR-UNSUR
KEBUDAYAAN
Kebudayaan setiap bangsa atau
masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun kecil yang merupakan bagian
dari kebulatan yang berifat sebagai kesatuan. Melville J. Herskovits melihat
unsur-unsur kebudayaan atas; Alat-alat teknologi, Sistem ekonomi, Keluarga, dan
Kekuasaan politik.
Unsur-unsur besar atau pokok dalam
kebudayaan lazim disebut Cultural
universal yang berarti unsur-unsur tersebut bersifat universal, yaitu dapat
dijumpai pada setiap kebudayaan manapun di dunia ini. Unsur-unsur universal
tersebut menurut C. Kluckhonn adalah:
·
Peralatan
dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga,
alat-alat transportasi, dan sebagainya)
·
Mata
pencarian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem
produksi, sistem distribusi dan sebagainya)
·
Sistem
kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem
perkawinan)
·
Bahasa
(lisan maupun tulisan)
·
Kesenian
(seni rupa, suara, gerak, dan sebagainya)
·
Sistem pengetahuan
·
Religi
(sistem kepercayaan) segala bentuk aktivitas kepercayaan mulai dari percaya
pada dewa, upacara keagamaan dan lain-lain.
Menurut Ralph Linton, unsur-unsur
tersebut dapat dijabarkan kedalam unsur-unsur yang lebih kecil atau dapat
disebut dengan Cultural Activity.
Contoh: unsur kedua data dijabarkan kedalam aktivitas pertanian, peternakan,
produksi, distribusi. Pertanian dapat dijabarkan menjadi aktivitas irigasi,
mengolah lahan dengan bajak, dan sistem hak milik atas tanah.
C.
FUNGSI
KEBUDAYAAN BAGI MASYARAKAT
Kebudayaan memiliki fungsi yang
besar bagi manusia dan masyarakat, karena kekuatan yang harus dihadapi oleh
masyarakat dan anggota-anggotanya (misalnya kekuatan alam) yang tidak selalu
baik bagi mereka. Ditambah lagi manusia sebagai masyarakat itu sendiri perlu
kepuasan baik spiritual maupun material. Apabila manusia sudah dapat
mempertahankan diri dan menyesuaikan diri dengan alam serta hidup damai dengan
manusia-manusia lainnya, maka akan timbul keinginan untuk menyatakan perasaan
dan keinginan yang akan disalurkan seperti kesenian.
Jadi, fungsi kebudayaan bagi
masyarakat dapat kita bagi sebagai berikut:
- Melindungi diri dari alam
Hasil karya manusia melahirkan tekhnologi yang
mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungan
alamnya. Dengan tekhnologi, manusia dapat memanfaatkan dan mengolah alam untuk
kebutukan hidupnya, sehingga manisia dapat menguasai alam.
- Mengatur tindakan manusia
Dalam kebudayaan ada norma, aturan kaidah, dan adat
istiadat yang kesemuanya itu berfungsi untuk mengatur bagaimana manusia
bertindak dan berlaku dalam pergaulan hidup dengan anggota masyarakat lainnya.
Dalam mengatur hubungan antar manusia, kebudayaan dinamakan pula sebagai “design for living” artinya kebudayaan
adalah garis-garis pokok tentang perikelakuan atau “blue print for behavior”, yang menetapkan peraturan-peraturan
mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Unsur-unsur normativ yang merupakan bagian dari
kebudayaan itu diantaranya adalah:
·
Unsur yang
menyangkut pertanian, berhubungan dengan hal-hal yang baik dan buruk,
menyenangkan dan tidak menyenangkan. Misalnya, perilaku laki-laki yang memakai
anting, kalung, tato, rambut panjang, dan lain sebagainya yang terdapat dalam
kehidupan bermasyarakat dan pasti ada yang menilai baik dan buruknya.
·
Unsur
keharusan, yaitu apa yang harus dilakukan seseorang.
·
Unsur
kepercayaan. Misalnya, harus mengadakan upacara adat pada saat kelahiran,
perkawinan, kematian, dan lain-lain.
- Sebagai wadah segenap perasaan
Kebudayaan berfungsi sebagai wadah atau tempat
mengungkapkan perasaan seseorang dalam masyarakat ataupun untuk memuaskan
keinginan, misalnya dengan adanya seni-seni dalam masyarakat.
D.
SIFAT
HAKEKAT KEBUDAYAAN
Walaupun setiap masyarakat mempunyai
kebudayaannya masing-masing, berbeda yang satu dengan yang lainnya, namun
setiap kebudayaan memiliki sifat hakekat yang berlaku umum bagi semua
kebudayaan dimanapun juga, sifat hakekat kebudayaan tersebut adalah:
·
Kebudayaan
terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia
·
Kebudayaan
telah ada dan terlebih dahulu ada dari pada lahirnya sutu generasi tertentu,
dan tidak akan habis dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
·
Kebudayaan
diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah laku.
·
Kebudayaan
mencangkup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban.
·
Tindakan-tindakan
yang diterima dan ditolak, tindakan yang dilarang dan diizinkan.
E.
KEPRIBADIAN
1. Pengertian
Kepribadian Secara Umum
Seorang tersusun atas dasar
fatalitas jasmani dan rohania, di samping ada faktor temperamen, karakter,dan bakat
fitalitas jasmani seseorang bergantunng pada konstruksi tubuhnya yang
terpengaruh oleh factor-faktor hereditas sehingga keaadaanya dapat di katakan
tetap atau konstan dan merupakan daya hidup yang sifatnya jasmanias.
2. Pengertian
Kepribadian Menurut Beberapa Alih Sosiologi
a) Menurut Horton (1982)
Kepribadian adalah keseluruhan
sikap, perasaan, ekspresi dan temparmen seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan
tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapan pada
situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan prilaku yang baku, atau
pola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya.
b) Menurut Schever Dan Lamm (1998)
Ia mendevinisikan
kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri kas dan
prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atu baku,
sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus
menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di hadapi.
3. Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kepribadian
a) Warisan Biologis
Warisan
biologis adalah semua hal yang di terima seseorang sebagai manusia melalui gen
kedua orang tuanya atau sifat turunan dari kedua orang tua .
Contohnya : ayah Darwin adalah seseorang yang tidak
suka banyak berbicara dan suka berdiam diri, maka sifat itu tampa di sadari di
miliki juga oleh anaknya Samuel. Contoh lainya adalah ayah otis adalah seorang
yang bentuk tubuhnya sangat tinggi dan lebar otomatis otispun akan bertumbuh ke
hal yang sama.
b) Lingkungan Fisik
Pengaruh
lingkungan atau fisik
terhadap kepribadian manusia paling sedikit di bandingkan factor- factor
lainya. Lingkungan fisik tidak mendorong terjadinya kepribadian khusus
seseorang.
4. Perbedaan
Pengertian Orang Pada Zaman Duhulu Dan Orang Pada Zaman Sekarang
a) Dulu orang percaya bahwa beberapa unsur kepribadian
seperti ambisi, kejujuran, kriminalitas, penimpanan seksual dan sebagainya,
merupakan warisan dari orangtua.
b) Namun pada zaman sekarang orang lebih percaya
beberapa pakar bahkan sifat kepribadian di tentukan oleh pengalaman seperti
kemampuan, perestasi, dan prilaku sepenuhnya di tentukak lingkungannya.
Hal ini sangat benar karena kita
melihat kondisi yang terjadi pada zaman ini, pada umumnya orang tidak dapat
melakukan segala sesuatu dengan kepribadianya sendiri tetapi kepribadian itu
sangat di pengaruhi oleh kebudayaan.
Salah satu contoh yang membutikan
bahwa kepribadian di pengaruhi oleh kebudayaan adalah, dulu masyarakat
Indonesia pada umumnya tidak pernah mengenakan pakayan seksi, sangat sopan
santun ketika bertemu atau akan melewati depan orang yang lebih tua dan sangat
menjaga perasaan orang lain Hal ini di laksanakan tampa ada peraturang namun
dengan kesadaran daripada pribadi seseorang.
Tetapi yang kita temukan sekarang
adalah, banyak sekali perilaku yang terjadi dan itu sangat bertentangan dengan
kepribadian seseorang pada zaman dulu, ini semua terjadi karena pemanasan
global dan perkembangan budaya atau pertukaran budaya antar suatu kelompok
suku, bangsa, bahasa, dan benua dapat mempengaruhi kepribadian seseorang.
F.
KEPRIBADIAN
DAN KEBUDAYAAN
Indonesia sebagai sebuah negara yang
memiliki ribuan pulau dengan jutaan penduduk yang tersebar di seluruh pulau
sudah pasti pula memiliki corak budaya yang beraneka ragam. Dari ragam corak
budaya ini pula menghasilkan ragam kepribadian individu masyarakat Indonesia.
Kepribadian sendiri adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak
kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikap yang melekat pada seseorang
apabila berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan.
Sedangkan arti Kebudayaan menurut
Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu – Zain adalah (1) segala sesuatu yang
dilakukan oleh manusia sebagai hasil pemikiran dan akal budinya; (2) peradaban
sebagai hasil akal budi manusia; (3) ilmu pengetahuan manusia sebagai makhluk
sosial yang dimanfaatkan untuk kehidupannya dan memberikan manfaat kepadanya.
Selanjutnya Koentjaraningrat dengan
mengacu pada pendapat Kluckhohn menggolongkan unsur-unsur pokok yang ada pada
tiap kebudayaan dunia, antara lain sebagai berikut.
- Bahasa
- Sistem pengetahuan
- Organisasi sosial
- Sistem peralatan hidup dan teknologi
- Sistem mata pencaharian hidup
- Sistem religi
- Kesenian
Masyarakan dan kebudayaan merupakan
perwujudan atau abstraksi perilaku
manusisa. Kepribadian juga akan mewujudkan perilaku manusia; perilaku manusia
dapat dibedakan dari kepribadiannya karena kepribadian merupakan latar belakang
perilaku yang ada dalam diri individu. Ketiga hal tersebut mencerminkan
kepribadian seseorang tersebut. Contohnya: seseorang yang melihat perselisihan
antara dua orang, hal yang mungkin
muncul dalam diri orang tersebut adalah keinginan untuk menyelesaikan
perselisihan tersebut dan kegiatannya atau perbuatan yang akan dilakukannya
untuk menyelesaikan masalah tersebut disebut tindakan.
Pembentukan kepribadian individu
pada umumnya dipengaruhi oleh faktor kabudayaan, organisme biologis, lingkungan
alam dan lingkungan sosial individu.
- Faktor biologis, dapat mempengaruhi kepribadian secara langsung, misalnya seseorang yang mempunyai badan yang lemah secara fisik dapat mempunyai sifat rendah diri atau cacat fisik dan juga bisa mempengaruhi kepribadian seseorang, atau karena kesalahan hormon dalam tubuh manusia akan mempengaruhi kepribadian seseorang.
- Faktor lingkungan alam dan lingkungan sosial dalam masyarakat akan dijumpai suatu proses dimana seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperikelakuan sesuai dengan keinginan kelompok (sosialisasi). Secara sosiologis, pembentukan kepribadian seseorang dapat diperoleh melalui proses tersebut yang dimulai sejak kelahirannya. Misalnya seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan yang ketat aturan maka dia akan tumbuh menjadi orang yang teratur.
Pengaruh Kebudayaan Terhadap
Perkembangan Kepribadian. Berdasarkan definisi kebudayaan dan kepribadian yang
telah dikemukakan sebelumnya, kebudayaan memiliki beberapa pengertian, yaitu
segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia atau peradaban manusia sebagai hasil
pemikiran dan akal budi mereka. Kebudayaan juga diartikan sebagai ilmu
pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang dimanfaatkan untuk kehidupannya
dan memberikan manfaat kepadanya. Sedangkan kepribadian diartikan sebagai sifat
khas dan hakiki seseorang yang membedakan dia dari orang lain. Terdapat lima
tipe kebudayaan khusus yang mempengaruhi bentuk kepribadian yaitu:
- Kebudayaan khusus atau dasar faktor kedaerahan. Misalnya dalam cara berdagang dan cara meminang antara orang padang dengan jawa berbeda karena pengaruh daerahnya
- Cara hidup di desa dan di kota berbeda. Anak yang dibesarkan di desa akan mempunyai sifat irit, percaya diri, sedangkan anak yang dibesarkan di kota bersifat individualistik.
- Kebudayaan khusus atau kelas sosial, orang yang memiliki materi yang lebih mempunyai gaya hidup yang berbeda dengan orang yang berkekurangan
- Kebudayaan khusus atas dasar agama, orang yang dididik oleh agama yang berbeda akan memiliki kepribadian yang berbeda pula.
- Pekerjaan atau keahlian. Misalnya kepribadian pengajar akan berbeda dengan dokter atau pengacara.
Kesimpulannya, kebudayaan diciptakan
oleh manusia dalam bermasyarakat sebagai wujud penyatuan cipta, karya dan rasa
masing-masing individu untuk membentuk nilai dan norma baru yang berlaku dalam
masyarakat itu. Kemudian nilai dan norma tersebut dipatuhi oleh setiap individu
sebagai identitas dari suatu kelompok masyarakat tertentu yang membedakan
mereka dari kelompok masyarakat lain yang memiliki nilai dan norma yang
berbeda.
Secara tidak sengaja, kebudayaan
kelompok masyarakat tertentu akan terbawa keluar apabila salah seorang
anggotanya melakukan hubungan dengan kelompok masyarakat lain yang memiliki
kebudayaan berbeda. Di sinilah akan terlihat perbedaan tingkah laku sosial dari
anggota masing-masing kelompok. Masing-masing akan membawa tingkah laku sosial
yang berlaku di dalam kelompoknya. Itulah yang disebut dengan kepribadian umum
dari suatu masyarakat.
Namun,
perlu diingat bahwa tidak berarti bahwa semua anggota termasuk di dalamnya.
Karena kepribadian tidak hanya dibentuk oleh faktor kebudayaan saja. Bisa saja
dalam suatu kelompok itu terdapat pula kepribadian yang berbeda-beda dari
masing-masing anggotanya, namun tetap ada satu kepribadian umum yang melekat
pada diri mereka masing-masing sebagai bagian dari pengaruh kebudayaan itu
tadi.
G. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KEPRIBADIAN
Perkembangan kepribadian
individu di pengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya faktor hereditas dan
lingkungan. Faktor hereditas yang mempengaruhi antara lain: bentuk tubuh,
cairan tubuh, dan sifat-sifat yang di turunkan oleh orang tua. Adapun faktor
lingkungan antara lain lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.
Keluarga di pandang sebagai
penentu utama pembentukan kepribadian anak. Alasanya adalah (1) keluarga
merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak, (2)
anak banyak menghabiskan waktu di lingkungan keluarga, dan (3) para anggota
keluarga merupakan “significant people”
bagi kepribadian pembentukan anak.
Di samping itu, keluarga
juga di pandang sebagai lembaga yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi),
terutama bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia.
H.
GERAK
KEBUDAYAAN
Tidak ada kebudayaan yang statis,
setiap kebudayaan pasti dinamis, kebudayaan pasti berubah, gerak tersebut
merupakan akibat dari gerak masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan. Selama
masyarakat itu dinamis dalam perkembangannya, maka kebudayaan itupun akan
dinamis (mengalami perubahan). Kebudayaan akan mengalami perubahan akibat dari
akulturasi masyarakatnya. Misalnya, bentuk TV, radio, pulpen, bentuk baju, dan
lain sebagainya yang kita lihat sekarang ini pasti jauh berbeda dengan yang
kita lihat lima atau tiga tahun yang lalu.
Dalam akulturasi, tidak semua
kebudayaan itu dengan mudah diterima oleh masyarakat, tetapi ada pula yang
sulit diterima misalnya menyangkut kepercayaan, idiologi, falsafah hidup, dan
makanan pokok. Sedangkan yang mudah bisa diterima misalnya peralatan menulis,
radio (alat-alat yang mengandung manfaat), dan alat yang dapat disesuaikan
dengan kondisi masyarakat tersebut.
Daftar
Pustaka
Komsiah, Siti. Modul Pengantar
Sosiologi “Kebudayaan Dan Masyarakat”. Pusat Pengembangan Bahan Ajar:
Universitas Mercu Buana.
Manan, Imran. 1989. Antropologi
Pendidikan Suatu Pengantar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta
Manan, Imran. 1989. Dasar-Dasar
Budaya Pendidikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta
Prof. Dr. Syamsu Yusuf LN, M.Pd
& Dr. H Achmad Juntika Nurihsan, M.Pd. 2011. Teori Kepribadian. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan
Indonesia.
file://localhost/D:/Kuliah%20S2/Kebudayaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar