1.
FILSAFAT
PENDIDIKAN MASA DEPAN
Dr. Saifur
Rohman, H.HUM, M.Si
Agus Wibowo,
M.Pd
Secara singkat, filsafat pendidikan dapat dimengerti
sebagai kajian filosofis tentang asumsi-asumsi dasar, konsep, prinsip-prinsip,
hingga kategori di dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan dilihat bukan
sekedar sebagai konsep apriori, tetapi sebagai langkah-langkah aposteriori yang
melibatkan fakta-fakta empiris. Karena itu, filsafat pendidikan adalah sebuah
upaya pemeriksaan yang menyeluruh terhadap hal-hal utama di dalam pendidikan.
Secara leksigrafis, istilah
pendidikan dalam kamus besar bahasa Indonesia dimengerti sebagai “proses pengubahan
sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”. Pengertian lain diungkap oleh
para ahli juga akan menyangkut persoalan tindakan transformasi kondisi manusia.
Secara ilmiah, pendidikan diartikan sebagai pengembangan fungsi-fungsi psikis
melalui latihan sehingga mencapai kesempurnaan sedikit demi sedikit. Pendidikan
adalah kegiatan membina anak manusia menuju kedewasaan dan kemandirian.
Pendidikan merupakan proses ketika kekayaan budaya nonfisik dipelihara atau
dikembangkan dalam pengasuh anak-anak (Muhammad Rifai, 2011:7).
Definisi pendidikan menurut para
ahli sangat banyak sekali; tergantung dari sudut pandang, paradigma,
pendekatan, dan disiplin ilmu mana yang dipakai. Ada yang mendefinisikan
pendidikan sebagai sebuah proses belajar dan penyesuaian indvidu secara terus
menerus terhhadap nilai-nilai budaya, dan cita-cita masyarakat. Secara ideal,
pendidikan merupakan proses dimana sebuah bangsa mempersiapkan generasi mudanya
untuk menjalankan kehidupan, dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan
efisien.
Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa
pendidikan itu merupakan daya upaya unntuk memajukan budi pekerti (kekuatan
batin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya ( Ki Hadjar Dewantara,
1977:14). Pendapat lain menyatakan bahwa pendidikan itu merupakan proses
humanisasi, melalui pengangkatan manusia ke taraf insani. Artinya, pendidikan
adalah usaha membawa manusia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir
aktual-transenden dari sifat alami manusia (humannes).
Pendidikan juga merupakan upaya
normatif yang menacu pada nilai-nilai mulia yang menjadi bagian dari kehidupan
bangsa, yang dengannya nilai tersebut dapat dilanjutkan melalui peran transfer
pendidikan baik aspek kognitif, sikap (efektif), maupun keterampilan (psikomotorik).
Pendidikan membimbing mnnusia menjadi manusiawi yang makin dewasa secara
intelektual, moral dan sosial, dalam konteks ini pendidikan merupakan
pemeliharaan budaya. Dalam konteks perubahan yang begitu cepat ddewasa ini,
pendidikan tidak cukup berperan sebagaimana telah diuraikan, tetapi juga harus
mampu melakukan transformasi nilai dalam tataran instrumental, sesuai denngan
tuntutan perubahan dengan tetap menjadikan nilai dasar sebagai pondasi.
Pemahaman filsafat pendidikan dalam buku ini dimulai
dari pemahaman yang jernih tentang filsafat itu sendiri. Konsep-konsep dalam
filsafatlansung menggunakan istilah khususnya, yakni kosmologi, etika, logika,
estetika, maupun ontologi. Demikian pula, konsep-konsep dalam filsafat terapan
tidak menggunakan embel-embel terapan dibelakangnya, tetapi langsung menunjuk
pada disiplin ilmu yang dikembangkan, misalnya, filsafat pengetahuan, filsafat
politik, filsafat sosial, dan seterusnya.
Dalam buku ini di nyatakan bahwa filsafat pendidikan
merupakan bagian dari filsafat terapan. Untuk lebih memahami arti teoritis dan
terapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar