Selasa, 27 Desember 2016

filsafat pendidikan masa depan



1.      FILSAFAT PENDIDIKAN MASA DEPAN
Dr. Saifur Rohman, H.HUM, M.Si
Agus Wibowo, M.Pd

Secara singkat, filsafat pendidikan dapat dimengerti sebagai kajian filosofis tentang asumsi-asumsi dasar, konsep, prinsip-prinsip, hingga kategori di dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan dilihat bukan sekedar sebagai konsep apriori, tetapi sebagai langkah-langkah aposteriori yang melibatkan fakta-fakta empiris. Karena itu, filsafat pendidikan adalah sebuah upaya pemeriksaan yang menyeluruh terhadap hal-hal utama di dalam pendidikan.
            Secara leksigrafis, istilah pendidikan dalam kamus besar bahasa Indonesia dimengerti sebagai “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”. Pengertian lain diungkap oleh para ahli juga akan menyangkut persoalan tindakan transformasi kondisi manusia. Secara ilmiah, pendidikan diartikan sebagai pengembangan fungsi-fungsi psikis melalui latihan sehingga mencapai kesempurnaan sedikit demi sedikit. Pendidikan adalah kegiatan membina anak manusia menuju kedewasaan dan kemandirian. Pendidikan merupakan proses ketika kekayaan budaya nonfisik dipelihara atau dikembangkan dalam pengasuh anak-anak (Muhammad Rifai, 2011:7).
            Definisi pendidikan menurut para ahli sangat banyak sekali; tergantung dari sudut pandang, paradigma, pendekatan, dan disiplin ilmu mana yang dipakai. Ada yang mendefinisikan pendidikan sebagai sebuah proses belajar dan penyesuaian indvidu secara terus menerus terhhadap nilai-nilai budaya, dan cita-cita masyarakat. Secara ideal, pendidikan merupakan proses dimana sebuah bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan, dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien.
            Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan itu merupakan daya upaya unntuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak, selaras dengan  alam dan masyarakatnya ( Ki Hadjar Dewantara, 1977:14). Pendapat lain menyatakan bahwa pendidikan itu merupakan proses humanisasi, melalui pengangkatan manusia ke taraf insani. Artinya, pendidikan adalah usaha membawa manusia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humannes).
            Pendidikan juga merupakan upaya normatif yang menacu pada nilai-nilai mulia yang menjadi bagian dari kehidupan bangsa, yang dengannya nilai tersebut dapat dilanjutkan melalui peran transfer pendidikan baik aspek kognitif, sikap (efektif), maupun keterampilan (psikomotorik). Pendidikan membimbing mnnusia menjadi manusiawi yang makin dewasa secara intelektual, moral dan sosial, dalam konteks ini pendidikan merupakan pemeliharaan budaya. Dalam konteks perubahan yang begitu cepat ddewasa ini, pendidikan tidak cukup berperan sebagaimana telah diuraikan, tetapi juga harus mampu melakukan transformasi nilai dalam tataran instrumental, sesuai denngan tuntutan perubahan dengan tetap menjadikan nilai dasar sebagai pondasi.
Pemahaman filsafat pendidikan dalam buku ini dimulai dari pemahaman yang jernih tentang filsafat itu sendiri. Konsep-konsep dalam filsafatlansung menggunakan istilah khususnya, yakni kosmologi, etika, logika, estetika, maupun ontologi. Demikian pula, konsep-konsep dalam filsafat terapan tidak menggunakan embel-embel terapan dibelakangnya, tetapi langsung menunjuk pada disiplin ilmu yang dikembangkan, misalnya, filsafat pengetahuan, filsafat politik, filsafat sosial, dan seterusnya.
Dalam buku ini di nyatakan bahwa filsafat pendidikan merupakan bagian dari filsafat terapan. Untuk lebih memahami arti teoritis dan terapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar