PEMBANGUNAN PERTANIAN
DAN PEDESAAN
![]() |
Nama : Aldi nurfauzi
Nim : 2290150023
Fakultas : Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
Jurusan : Pendidikan sosiologi
PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIIRTAYASA
2016
DINAMIKA PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN
[1]Dalam kehidupan manusia sektor pertanian adalah sektor
yang memiliki peran sangat penting. Di indonseia pun peranian adalah salah satu
sektor penghasil pendapatan yang tinggi. Menurut bappenas sekitar 15%
pendapatan egara pada tahun 2010 berasal dari sektor pertanian. Jadi sektor
pertanian adalah sektor yang mau tak mau harus ada dan berkembang. Karena buan
hanya urusan pendapatan negara tap juga urusan hidup dan matinya kehidupan
manusia. Seperti kata bung karno
“Pertanian di Indonesia adalahurusan hidup dan mati”. Tapi dalam
perkembangannya pertanian di Indonesia memiliki banyak permasalahan yang
bersifat continue.
Pertanian
yang berlangsung selama ini belum berhasil mengangkat petani dan pertanian
kepada posisi yag sharusy. Esenjangan kesejahteraan petani di bandingkan denan
pekerja sektor lainnya semakin melebar. Produktivitas usaha tani dan kualitas
produk tidak menunjukan perbaikan yang berarti. Produk-produk pertanian smakin
berkurang daya saingnya bila di bandingkan dengan negara-negara tetangga.
Keterpurukan dan tidak berkembangnya sekto
pertanian ini memiliki dampak luas dalam pembangunan di Indonesia secara
keseluruhan. Tertinggalnya sektor pertanian mengakibatkan pembangunan ekonomi
dan pembangunan Negara tidak memiliki landasan yang kokoh dan mudah runtuh saat
terjadi perubahan keadaan. Dampak negative nyata dari terpuruknya pertanian
adalah tingkat kemiskinan meningkat, ketahanan pangan rendah, ketergantungan
pada pangan luar Negeri semakin tinggi, industrialisasi sangat ergantung pada
faktor produksi atau bahanbakun impor. Pengangguran di pedesaan tinggi,
stabilitas keamanan Negara rendah, mutu kehidupan di pedesaan merosot, kualitas
umber daya manusia menurun, kualitas lingkungan dan sumber daya alam merosot,
dan kemampuan daya saing bangsa dan Negara menjadi rendah. Guna mencegah
hal-hal tersebut di perlukan perhatian besar dari pihak pemerintah dalam upaya
pemberdayaan sktor pertanian dan penentuan prioritas pembangunan pertanian dan
pedesaan.
Pembangunan
pertanian dan pedesaan perlu di lakukan secara paripurna, terintegrasi, dan
sinergis. Setiap unsur dan komponen yang menjadi landasan pertanian perlu di
kembangkan secara optimal. Unsur-unsur pertanian pokok adalah petani dan keluarganya,
sumber daya alam, teknologi, dan lingkungan sosial budaya. Keempat unsur ini
merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan mempengaruhi. Petani dan
keluarganya petani dan genersi penerusnya perlu letakan sebgai unsur sentral
yang memperoleh manfaat terbesar dari pembangunan pertanian. Kualitas petani
dan keluarganya perlu memperoleh prioritas agar mampu melakukan
penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan kondisi lingkungan yang
mlingkupinya. Tanpa peraikan kualitas petani dan keluarganya, berbagai peluan
yang muncul dari proses pembangunan tidak akan mampu di raihnya.
[2]Sebagian besar petani di Indonesia dikategorikan sebagai
petani gurem, dengan penguasaan asset produktif minimal dan jauh dari memadai
dari suatu usaha yang layak bagi pemenuhan pendapatan keluarga. Dari keadaan
ini tercrmin bahwa peningkatan kesejahteraan petani tidak akan tercapai apabila
haya mengandalkan dari hasil usaha taninya . pembanunan pertanian tidak dapat
di pisahkan dari pembangunan pedesaan dalam arti luas.
POLA KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN
Pola
klasik yang dihadapi oleh petani kita adalah minimnya kmamouan dalam mengadaka
n berbagai kelengkapan dengan apa yang disebut dengan sistem pertanian modern
seperti pengadaan pupuk kandang, pupuk organik, pestisida, benih unggul, serta
peralatan pertanian, irigasi maupun sistm pengelolaan pertanian. Tentu saja
persoalan ini melibatkan jumlah dana dibutuhkan untuk memperoleh sejumlah point
yang di sebut d atas. Namu sebenarnya yang seringkali di lupakan oleh petani
kita adalah bahwa merka juga kurang mengakui bahwa apa yang mereka lakukan
terkait cara-cara bertani, pola-pola pengendalian ataupun pemeliharaan masih
saja mengandalkan kemampuan tradisional yang berdasarkan pengalaman semata.
Akibatnya, berbagai persoalan seperti pnanganan hama tanaman yang terkait
dengan iklim, struktur tanah, tingkat kekebalan hama penyakit tanaman kurang
menjadi perhatian mereka. Dampaknya ialah bahwa mereka seringkali
menggantungkan harapan merka bahwa yang kurang dimiliki oleh petani kita itu
adalah jumlah dna yang terbatas dalam pengadaan pestisida atau pupuk maupun
benih yang lebih baik. Ketiadaan dana
menjadi alasan bagi mereka untuk tidak turun ke sawah atau k ladang dan lebih
menerima keadaan diri mereka sebagai nasib yang tidak berpihak.
Di satu
sisi, persoalan dana yang dibutuhkan dalam pertanian di indonesia tergolng
mahal. Ragam puuk, pestisida, dan benih unggul hasil keseluruhannya merupakan
barang impor sehingga biaya pengadaanya bagi petani kita terasa mahal. Lain
daripada itu, harga jual pasca panenpun seringkali tidak berpihak bagi mereka,
jumlah yang harus dkeluarkan dalam produksi pertanian tidak sebanding dengan
harga jual pasca panen yang mengakibatkan petani kita menjadi kian terpuruk.
Akhirnya petani kita tidak pernah bertahan pada suatu komoditas tani tertentu
melainkan mencoba seluruh komoditas mskipun pengetahuannya untuk itu belum memadai. Contohnya adalah seperti yang
dihadapi oleh petani padi dan holtikultura di kabupaten karo dan simalungun.
Persoalan yang dihadapi oleh petani di dua kabupaten tersebut adalah
menjamurnya penakit tanaman (disebut dengan virus tanaman) yang menyerang
berbagai komoditas andalannya seperti kol, tomat, cabai, jagung kentang ataupun
jahe.
PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA
[3]Desa merupakan salah satu bagian terkecil dari rangkaian
urut-urutan sebuah Negara (di Indonesia). Desa dari dahulu kala selalu identik
dengan ketertinggalan dalam bentuk infrastuktur maupun dalam hal pembangunan
sumber daya manusia sebagai aset terbesar.
Orang
desa harus berjuang sendiri untuk membangun desanya. Sebab, bantuann dari
pemerintah pusat maupun dari pemerintah kabupaten tidak pernah menyentuh
pembangunan di desa, entah berhnti dimana, dan dipegang oleh siapa. Pembangunan
infrastruktur di pedesaan sangatlah jauh dari apa yang diharapkan untuk bisa
menaikan tarif hidup masyarakat desa dan menggenjot perekonomian pedesaan.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA
Banyak
faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran. Faktor yang paling dominan
adalah tidak seimbangnya antara supply and demand atau jumlah pencari kerja tidak sebanding
dengan jumlah lowongan yang tersedia, faktor lainnya adalah masih belum
dimanfaatkannya peluang usaha yang bersumber dari potensi kearifan lokal
masyarakat.
Fakta
di lapangan menujukan bahwa produk-produk hasil kearifan masyarakat dan
keterampilan lain yang menggunakan teknologi modern yang memiliki pangsa pasar
yang besar, baik pasar domestik mapun pasar global.
Sehubungan
dengan itu, dalam rangka ikut serta menyukseskan program pemerintah mempercepat
pengentaskan pengangguran dan kemiskinan dilakukan program pemberdayaan
masyarakat melalui pendidikan kecakapan meliputi beberapa bidang, diantaranya :
1. Pemberdayaan masyarakat bidang pertanan
2. Pemberdayaan masyarakat bidang olahan makanan tradisional
(bahan lokal)
3. Pemberdayaan masyarakat bidang kerajinan
4. Pemberdayaan masyarakat bidang peternakan
5. Pemberdayaan masyarakat bidang pertukagan
tujuan
diselenggarakannya program pemberdayaan masyarakat ini diantaranya adalah
memberikan pendidikan kecakapan hidup kepada masyarakat agar memiliki
keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dibutuhkan untuk bkerja atau
berwirausaha.
Rendahnya tingkat pndidikan pada masyarkat desa
[4]Sarana pendidikan masyarakat di desa cenderung rendah.
Masyarakat di desa umumnya hanya berpendidikan SD, SMP, SMA. Hal ini disebabkan
karena masyarakat belum mengetahui seberapa besar pentingnya pendidikan untuk
dirinya. Apabila setelah menylesaikan pendidikan SMA atau lebih buruk hanya
sampai SD saja orangtua akan menikahkan anak-anaknya sehingga masa depan
pendidikan generasi penerus bangsa menjadi terputus dan hal ini menyebabkan
mereka bergelut pada lingkar kemiskinan karena minimnya pendidikan. Rendahnya
pendidikan ini juga menjadi akar prmasalahamn bahwa kurang inisiatif masyarakat
dalam menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan mereka. Mereka hanya
memikirkan bagaimana caranya agar tetap bertahan hidup tanpa memikirkan
bagaimana nasib generasi penerus bangsa di masa mendatang. Karena minimnya
pendidikan masyarakat ini menyebabkan dari seluruh penduduk desa hampir 95%
penduduk bermatapencaharian sebagai petani. Selain itu masalah rendahnya
pendidikan juga menjadikan kendala dalam penerapan inovasi yang di lakukan oleh
penyuluhan. Olehkarena itu masyarakat harus ditingkatkan kesadaran akan
pentingnya pendidikan dengan memperbaiki sarana pendidikan mengadakan
penyuluhan masyarakat agar tercipta generasi penerus yang memiliki pengetahuan
sehingga dapat meningkatkan sumber daya manusia dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
Minimnya saran dan prasarana di pedesaan
Salahsatu
keterbelakanggan yyang dialami masyarakat pedesaan di Indonesia dapat di lihat
dari aspek pembangunan sarana dan prasarana. Beberapa sarana dan prasarana
pokok dan penting dai daerah pedesaan, antaralain:
a. Prasarana dan sarana transportasi
Salahsatu prasarana dan sarana pokok dan penting untuk
membuka isolasi daerah pedesaan dengan daerah lainnya adalah prasarana
transportasi ( seperti jalan raya, jebatan, prasarana transportasi laut dan
udara), dan sarana transportasi (seperti mobil, sepeda motor, kapal laut dll).
Keterbatasan sarana dan prasarana yang memadai akan mendukung arus orang dan
barang yang keluar dan masuk ke daerah pedesaan.
b. Prasarana dan sarana pendidikan yang kurang memadai
Sebagian masyarakat di daerah pedesaan telah memiliki
kesadaran untuk mendidik anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,
keadaan prasarana pendidikan seperti lembaga pendidikan dan gdung sekolah di
daerah pedesaan relatif terbatas.
Terbatasnya
lapangan pekerjaan di pedesaan
[5]Indonesia sebagai negara agraris sampai saat ini dapat
dilihat dari besarnya jumlah penduduk yang masih mengandalkan penghasilannya
serta menggantungkan harapan hidupnya pada sktor pertanian. Dominasa sektor
pertanian sebagai mata pencaharian penduduk dapat terlihat nyata di daerah
pedesaan. Sampai saat ini lapanyan kerja yang tersedia di daerah pedesaan masih
di dominasi oleh sektor pertanian. Kegiatan usaha ekonomi produktif di daerah
pedesaan masih sangat terbatas ragam dan jumlahnya, yang cenderung terpaku pada
bidang agribisnis. Aktivitas usaha dan matapencaharian utama masyarakat di
daerah pedesaan adalah usaha pengelola/pemanfaatan sumber daya alam yang secara
langung atau tidak langsung ada kaitannya dengan pertanian.
Untuk
lebih menggerakan dan memacu pembangunan desa secara lebih berdaya guna dan
berhasil guna. Maka yang pertama yang perlu di bangun adalah manusia sebagai
pelaku dan pelaku pembangunan itu sendiri. Kritik bagi model pembangunan kit
selama ini adalah bangsa kita lebih cenderung mengedepankan pembangunan fisik
daripada pembangunan manusia. Berdasarkan kondisi tersebut maka kedepannya kita
perlu meata ulang format pembangunan desa. Bangsa ini harus memilah, memiliki
dan menata secara lebih arif. Tidak mungkin lagi membuat kebijakan pembangunan
yang seragam untuk semua desa.
Rendahnya kesadaran petani terhadap adopsi inovasi
pertanian
Karena
minimnya pendidikan masyarakat hal ini menebabkan hampir seluruh penduduk desa
bermata pencaharian sebagai petani, selain itu masalah rendahnya pendidikan
juga menjadikan kendala dalam penerapan inovasi yang dilakukan oleh penyuluhan.
Dalam mengelola pertanian mereka hanya menggunakan cara-cara yang mereka terapkan
selama inni secara turun temurun tanpa adanya pembaharuan atau inovasi yang
dilakukan untuk meningkatkan hasil tani mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar