1.
FILSAFAT ILMU
Jerome R. Ravertz
Filsafat ilmu
pertama-tama berusaha menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses
penelitian ilmiah yaitu: prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola argumen,
metode penyajian, dan penghitungan, praandaian-praandaian metafisik dan
seterusnya. Kemudian mengefaluasi dasar-dasar validasinya berdasarkan sudut
pandang logika formal, metodologi praktis dan metafisika. Dalam bentuk
kontemporer filsafat ilmu kemudian menjadi suatu topik bagi analisis dan
diskusi eksplisit yang setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya yaitu:
etika, logika dan eoistimologi (teori pengetahuan). Pada titik tertentu,
batas-btas bagi cabang-cabang tersebut masih arbitrer. Misalnya, tidak gampang
memisahkan denan tegas pengabsahan (validation) hipotesis ilmiah dari studi
formal logika induktif (yang menarik kesimpulan dari fakta-fakta menjadi
prinsip-prinsip umum) atau antara pedebatan tentang teori dan pengamatan yang
terdapat dai dalam filsafat ilmu dengan yang terdapat didalam epistimologi.
Di
awal abad ke-20 perdebatan diantara dua orang fisikawan Australia, Ernst Mach
dan Ludwig Boltzmann, dengan seorang kimiawan fisik Jerman, Wilhelm Ostwald,
tentang eksistensi dan realitas atom, misalnya, mencangkup baik isu-isu
substantif mengenai fisika maupun isu-isu filosofis mengenai jenis analisis
yang lebih ketat. Tumpang tindih serupa tak dapat dihindarkan juga dalam
ilmu-ilmu sosial dan biologis; yaitu mengenai eksistensi dan status agen-agen
atau entitas-entitas yang sangat vital dan sosial.
Bada
orang beda cara berfikirnya dalam mendekati filsafat ilmu. Mulai dari yang
sanggat abstrak dan matematis hingga yang konkret dan historis dan dari sangat
positivistik hingga yang sangat teologis. Keanekaragaman minat dan pendekatan
telah mempengaruhi hubungan-hubungan antara filsafat ilmu dengan disiplin
disiplin lain yang bedekatan pada tingkat praktis, misalnya, inntepretasi
filosofis yang berbeda-beda mengimplikasikan prosedur yang berbed-beda dalam
pengujian dan perkiraan kekuatan konsep-konsep dan hipotesis-hipotesis
saingannya. Dengan demikian, tak dapat ditarik garis pemisah yang jelas antara
analisis filosofis eori-teori ilmiah dengan analisis statistik
prosedur-prosedur ilmiah dengan eksperikmen-eksperimen. Juga tak dapat ditarik
garis pemisah yang jelas antara filsafat ilmu dengan sejarah ide-ide ilmiah.
Pada
tingkat yang lebih umum dan abstrak, filsafat ilmu tak pernah dapat dipisahkan
sama sekali dari metafisika dan epistimologi. Tentusaja ada beberapa filsuf
abad ke-20 misalnnya, pakar logika filosofis Amerika seerikat Willard V. Quine
yang dengan efektif membatasi bidan-bidang yang sah metafisika dan epistimologi
pada apa yang telah disebut aspek-aspek ontal dan epistemik filsafat ilmu. Dalam
pandangan Quine, problem ontologis tradisional mengenai apa yang ada didalam
dunia sejauh yang diketahui manusia
harus dipecahkan dengan analisis logis terhadap klaim-klaim diseputar
jenis-jenis benda apa yang ada yang tersirat dalam sistem teoretis alternaif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar