Selasa, 27 Desember 2016

filsafat ilmu

1.      FILSAFAT ILMU
Jerome R. Ravertz      

Filsafat ilmu pertama-tama berusaha menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penelitian ilmiah yaitu: prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola argumen, metode penyajian, dan penghitungan, praandaian-praandaian metafisik dan seterusnya. Kemudian mengefaluasi dasar-dasar validasinya berdasarkan sudut pandang logika formal, metodologi praktis dan metafisika. Dalam bentuk kontemporer filsafat ilmu kemudian menjadi suatu topik bagi analisis dan diskusi eksplisit yang setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya yaitu: etika, logika dan eoistimologi (teori pengetahuan). Pada titik tertentu, batas-btas bagi cabang-cabang tersebut masih arbitrer. Misalnya, tidak gampang memisahkan denan tegas pengabsahan (validation) hipotesis ilmiah dari studi formal logika induktif (yang menarik kesimpulan dari fakta-fakta menjadi prinsip-prinsip umum) atau antara pedebatan tentang teori dan pengamatan yang terdapat dai dalam filsafat ilmu dengan yang terdapat didalam epistimologi.
            Di awal abad ke-20 perdebatan diantara dua orang fisikawan Australia, Ernst Mach dan Ludwig Boltzmann, dengan seorang kimiawan fisik Jerman, Wilhelm Ostwald, tentang eksistensi dan realitas atom, misalnya, mencangkup baik isu-isu substantif mengenai fisika maupun isu-isu filosofis mengenai jenis analisis yang lebih ketat. Tumpang tindih serupa tak dapat dihindarkan juga dalam ilmu-ilmu sosial dan biologis; yaitu mengenai eksistensi dan status agen-agen atau entitas-entitas yang sangat vital dan sosial.
            Bada orang beda cara berfikirnya dalam mendekati filsafat ilmu. Mulai dari yang sanggat abstrak dan matematis hingga yang konkret dan historis dan dari sangat positivistik hingga yang sangat teologis. Keanekaragaman minat dan pendekatan telah mempengaruhi hubungan-hubungan antara filsafat ilmu dengan disiplin disiplin lain yang bedekatan pada tingkat praktis, misalnya, inntepretasi filosofis yang berbeda-beda mengimplikasikan prosedur yang berbed-beda dalam pengujian dan perkiraan kekuatan konsep-konsep dan hipotesis-hipotesis saingannya. Dengan demikian, tak dapat ditarik garis pemisah yang jelas antara analisis filosofis eori-teori ilmiah dengan analisis statistik prosedur-prosedur ilmiah dengan eksperikmen-eksperimen. Juga tak dapat ditarik garis pemisah yang jelas antara filsafat ilmu dengan sejarah ide-ide ilmiah.
            Pada tingkat yang lebih umum dan abstrak, filsafat ilmu tak pernah dapat dipisahkan sama sekali dari metafisika dan epistimologi. Tentusaja ada beberapa filsuf abad ke-20 misalnnya, pakar logika filosofis Amerika seerikat Willard V. Quine yang dengan efektif membatasi bidan-bidang yang sah metafisika dan epistimologi pada apa yang telah disebut aspek-aspek ontal dan epistemik filsafat ilmu. Dalam pandangan Quine, problem ontologis tradisional mengenai apa yang ada didalam dunia sejauh yang diketahui  manusia harus dipecahkan dengan analisis logis terhadap klaim-klaim diseputar jenis-jenis benda apa yang ada yang tersirat dalam sistem teoretis alternaif.
                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar